Top 10 Blogger Termuda Dibawah 17 Tahun
Agak mengherankan juga melihat para blogger cilik ini bisa sukses di dunia blog dan menjadi top blogger diantara para top blogger dewasa lainnya. Di usia mereka yang masih sangat belia (dibawah 17 tahun), mereka berhasil membuat blog yang sangat ramai dikunjungi oleh ribuan orang perharinya. Bahkan mereka telah menghasilkan uang ribuan dollar/bulan dari blognya tersebut.
Diantara “anak-anak ” tersebut diatas, beberapa mulai serius mengembangkan blognya menjadi sebuah lahan bisnis yang menjanjikan dan profesional dengan omset jutaan dollar. Bagaimana dengan Blogger kita, seperti sudah ada yang up juga nih mengarah kesana …
Berikut daftar top 10+ Blogger Termuda yang berusia di bawah 17 tahun :
1.Carl Ocab http://www.carlocab.com 14 years old
2.David Wilkinson http://www.techzi.net 13 years old
3.Sly Blanco http://slyvisions.com/ 16 years old
4.Marko Dimitrovski http://buckserv.com/ 13 years old
5.Pranav Rastogi http://www.diggitlive.com 13 years old
6.Maher Saleh http://www.moneymakerboy.com/ 12 years old
7.Chloe Spencer http://www.neopetsfanatic.com/ 16 years old
8.Sean http://www.seantheblogger.com/ 15 years old
9.Josh Buckley http://www.joshbuckley.net/ 16 years old
10.Gareth Boyd http://www.justgareth.com 15 years old
11.Shane Hudson http://lonelydesigns.com/ 14 years old
12.Glenn Wolsey http://www.glennwolsey.com/ 15 years old
13.Connor Wilson http://www.connorwilson.com/ 16 years old
“Ketika Cinta Bertasbih”, Siap Diangkat ke Layar Lebar
Kesuksesan film Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari novel Habiburrahman El Shirazy membuat karyanya menjadi incaran selanjutnya untuk di filmkan. Kali ini, rumah produksi Sinemart Pictures milik Leo Sutanto tengah bersiap mengadaptasi novel Kang Abik berjudul “Ketika Cinta Bertasbih”.
Tak tanggung-tanggung, dua nama besar perfilman nasional, Chaerul Umam dan Imam Tantowi akan berduet sebagai sutradara dan penulis skenario. Sangat menarik, mengingat prestasi Chaerul yang telah meraih Piala Citra 1992 di Ramadhan dan Ramona dan penghargaan pada Festifal Film Asia 1977 di film Al Kautsar. Juga Imam Tantowi yang meraih Citra 1991 di Soerabaia’45 untuk sutradara terbaik dan Citra 1989 di Si Badung untuk kategori Penulis Cerita Terbaik.
“Ketika Cinta Bertasbih” yang terdiri atas dua buku (dwilogi) memakai dua setting latar Mesir dan Indonesia. Episode pertama mengenai pengembaraan Khairul Azzam untuk menuntut ilmu di Al-Azhar, Kairo, dan perjuangannya selama sembilan tahun untuk menyelesaikan studi S1 di Al-Azhar sambil mencari biaya pendidikan adik-adiknya di tanah air dengan berjualan bakso dan tempe pada para mahasiswa maupun warga Indonesia di Kairo.
Untuk episode dua mengenai pencarian cinta Khairul Azzam di tanah kelahirannya (Pulau Jawa). Episode dua akan membuat Anda berlinang air mata saat Azzam kehilangan orang yang sangat dicintainya dan kenangan Husna (Adik Azzam) ketika Ayah mereka dipanggil oleh Sang Khalik.
Untuk kepentingan promo, rencananya soft launching akan di gelar pada Selasa (24/3) di The Sultan Hotel (dulu Hilton_red), Jakarta. (Musashi)
Chaerul Umam Garap Film Persis Novel
Chaerul Umam Garap Film Persis Novel
JAKARTA – Sutradara Chaerul Umam dipercaya menggarap film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Pria yang ada di balik sukses film drama komedi Ramadhan dan Ramona itu merasa satu visi dengan cerita yang diadaptasi dari novel karya Habiburrahman El Shirazy, pengarang Ayat-Ayat Cinta (AAC). “Banyak mengajarkan kebaikan,” katanya kemarin (25/3).
Beberapa tahun terakhir, kata pria yang akrab disapa Umam tersebut, dirinya memang sudah menentukan sikap untuk membuat karya, khususnya film, yang bernapaskan Islam. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. “Mengingat usia yang tidak lagi muda, sudah saatnya membuat yang bermanfaat,” kata pria kelahiran 4 April 1943 itu.
Sejak membuat keputusan tersebut, Umam rajin mencari cerita islami yang bagus untuk difilmkan. Target utama adalah novel Di Atas Sajadah Cinta dan Ayat-Ayat Cinta. Tapi, keduanya berlalu begitu saja, digarap sutradara lain. Akhirnya, Umam bisa mengucap syukur setelah rumah produksi SinemArt memercayakan penggarapan KCB untuk dirinya. “Alhamdulillah, ini sebuah penghargaan. Pucuk dicinta ulam pun tiba,” ucap sutradara sintron religi Maha Kasih itu.
Bagi Umam, KCB sangat menarik untuk difilmkan. Selain karena ceritanya sangat menarik, konflik di antara tokoh pun tidak vulgar. “Sangat halus. Inner conflict. Saya yang punya latar belakang aktor sangat senang dengan konflik seperti ini. Konflik tidak dirupakan dalam bentuk perkelahian atau marah-marah,” paparnya.
Kalau Hanung Bramantyo sejak awal mengatakan film AAC yang dibuatnya tidak sama persis dengan cerita novel, Umam sebaliknya. “Filmnya akan sama persis dengan novel. Nanti ketika nonton film, orang seperti sedang membaca novel. Tapi, tokoh-tokohnya bergerak,” lanjutnya sambil menambahkan bahwa KCB akan diluncurkan tahun ini juga.
Pemain yang akan memperkuat KCB belum ditentukan. Saat ini, proses casting masih berjalan. Sedikitnya dibutuhkan lima pemain utama. Kang Abik, panggilan Habiburrahman El Shirazy, turut menyeleksi.
Sejumlah syarat sudah ditetapkan. Di antaranya, calon pemain harus sudah membaca novel KCB, bisa mengaji, dan berkepribadian tidak jauh berbeda dengan tokoh yang dimaksud. “Jadi, tidak mungkin orang yang terjerat narkoba memerankan tokoh baik seperti yang ada di novel,” imbuh Kang Abik.
Mengingat AAC ditonton lebih dari 2, 5 juta orang, apakah Umam merasa memiliki beban untuk mencatat sukses serupa? “Soal jumlah penonton, saya tidak bisa memperkirakan. Banyak hal yang membuat sebuah film ditonton banyak orang. Bukan hanya kualitas,” jawabnya.
Meski begitu, Umam berjanji memberikan karya terbaik. “Saya akan membuat film ini indah dan komunikatif. Saya optimistis bisa melakukan. Tapi, saya nggak bisa menjanjikan ditonton banyak orang,” ujarnya.
Dilihat dari angka penjualan buku, Ahmad Munif, perwakilan penerbit Republika, merasa yakin KCB lebih menarik minat pasar daripada AAC. Setelah empat tahun dirilis, AAC terjual sampai 400 ribu eksemplar. KCB mampu mencapai 350 ribu eksemplar di tahun ketiga penjualan.
Sama seperti ketika AAC akan difilmkan, Kang Abik juga meminta beberapa hal sebelum KCB diproduksi. Mulai lokasi syuting yang sebisanya menggambarkan setting novel sampai karakter pemain yang harus sesuai dengan tokoh yang tertuang dalam tulisan. “Sebisanya harus mendekati imajinasi pembaca novel, bahkan lebih,” kata Kang Abik.
Dalam waktu dekat, tim dari SinemArt akan berangkat ke Kairo, Mesir, lokasi yang digambarkan dalam novel KCB. Mereka akan menyurvei tempat. Jika gagal, Tunisia dipilih sebagai alternatif. “Setelah lokasinya dapat, kami akan tetapkan tanggal syuting. Masalah biaya sudah disiapkan,” ungkap Heru Hendriyarto, produser KC
Film Ketika Cinta Bertasbih Bakal Dibuat 3 Seri
Film Ketika Cinta Bertasbih Bakal Dibuat 3 Seri
JAKARTA – Satu lagi novel karangan Habiburrahman El Shirazy akan diangkat menjadi film, Ketika Cinta Bertasbih. Seperti novelnya, film juga akan dibuat tiga seri.
“Buku ini best seller di Asia Tenggara. Kita akan mengikuti novelnya yang dibuat menjadi tiga seri. Film juga akan kontinyu tiga seri,” ungkap produser SinemArt Heru Hendriyarto kepada okezone, di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (1/4/2008).
Untuk film ini, pemeran wanita sebisa mungkin fasih berbahasa Arab.
“Para pemain syaratnya berakhlak mulia, yang wanita berjilbab dan fasih menggunakan bahasa Islam. Kalau diperkenankan kita mencari pemain yang fasih berbahasa Arab,”
Meski dalam film tersebut nanti akan ditampilkan hubungan cinta manusia lawan jenis, Heru memastikan tidak akan melanggar kode etik Islamiah.
Kecewa dengan film Ayat – ayat Cinta
Banyak beberapa orang yang merasa sedikit kecewa dengan film ayat-ayat cinta ini , seperti yang di tulis beberapa temen dalam milist.
But menurut saya mah… kita ambil aja hikmah yang terkandung dalam film AAC ini..
![]()
Ni kesalahan film AAC yang bikin gw kecewa:
*Fahri orangnya cupu banget. Padahal di novel dia itu tipikal pemimpin, tegas, kepala rumah tangga, makanya dia disukai cw. Eh di film kok dia jadi lemah, cengeng, trus minta nasehat mulu ke Syaiful (padahal yg terjadi di novel sebaliknya).
*Mahasiswa S2 Al-Azhar dinasehatin ama orang GILA gitu lho! Seolah ajaran agama Islam itu datangnya dari orang gila! Gila benerrrr!
*Fahri melototin perempuan! Gak sesuai banget ama sifat Fahri yg sangat islamis.
*Namanya SYAEFUL, tapi kenapa logat bicaranya JAWA?
*Fahri terlalu perhatian ama perempuan. Padahal di novelnya dia itu cuek ama perempuan, makanya gak kimpoi2
*Alicianya kok gak jadi orang Islamm? Percuma dong dia nongol di awal cerita
*Orang mesir pemarah, main asal tabok, padahal di novelnya diceritakan mereka itu orang yg sabar dan ramah, tipikal muslim sejati
*Orang mesir mukul Fahri, terus teriak ALLAHUAKBAR! Seolah2 ucapan Allahuakbar identik dengan kekerasan.
*Pamannya si Nurul kelihatan lemah, padahal sebagai seorang Syeikh semestinya dia ditampilkan berwibawa. Bukannya datang ngemis2 fahri minta poligami ama ponakannya.
*Kritiknya tidak setajam novelnya. Mungkin kena sensor kali ya? Yg ini gw sedikit maklum
*Aisha seolah digambarkan sebagai seorang yg ceroboh, mau kimpoi tanpa mengenal latar belakang suaminya. Padahal di novelnya dia telah mengenal Fahri dengan baik dari cerita2 Eqbal, pamannya.
Terus terang saya kecewa dengan film ini. Kenapa ya sutradara sekelas Hanung dengan karya2 terkenalnya bisa menghasilkan film kurang bermutu spt ini?
Memang lebih baik Hanung tetap berada di jalurnya, yaitu komedi. Dan film ini sebaiknya diserahkan kepada orang yg lebih “islamis” seperti Dedy Mizwar dengan karya2 terkenalnya seperti Lorong Waktu, Para Pencari Tuhan dll
Dan lebih baik agar hak pembuatan film islam seperti AAC tidak diberikan kepada PERUSAK MENTAL BANGSA, PEMBUAT SINETRON PERUSAK MORAL, PENJAJAH DARI INDIA, PUNJABI BERSAUDARA!
Lempar batu merah untuk PUNJABI!





