^ Coretan Hati Kecil ^

~ Manusia tak pernah puas ~

Kecewa dengan film Ayat – ayat Cinta

with 7 comments

Banyak beberapa orang yang merasa sedikit kecewa dengan film ayat-ayat cinta ini , seperti yang di tulis beberapa temen dalam milist.

But menurut saya mah… kita ambil aja hikmah yang terkandung dalam film AAC ini..

aac4.jpg
Ni kesalahan film AAC yang bikin gw kecewa:

*Fahri orangnya cupu banget. Padahal di novel dia itu tipikal pemimpin, tegas, kepala rumah tangga, makanya dia disukai cw. Eh di film kok dia jadi lemah, cengeng, trus minta nasehat mulu ke Syaiful (padahal yg terjadi di novel sebaliknya).

*Mahasiswa S2 Al-Azhar dinasehatin ama orang GILA gitu lho! Seolah ajaran agama Islam itu datangnya dari orang gila! Gila benerrrr!

*Fahri melototin perempuan! Gak sesuai banget ama sifat Fahri yg sangat islamis.

*Namanya SYAEFUL, tapi kenapa logat bicaranya JAWA?

*Fahri terlalu perhatian ama perempuan. Padahal di novelnya dia itu cuek ama perempuan, makanya gak kimpoi2

*Alicianya kok gak jadi orang Islamm? Percuma dong dia nongol di awal cerita

*Orang mesir pemarah, main asal tabok, padahal di novelnya diceritakan mereka itu orang yg sabar dan ramah, tipikal muslim sejati

*Orang mesir mukul Fahri, terus teriak ALLAHUAKBAR! Seolah2 ucapan Allahuakbar identik dengan kekerasan.

*Pamannya si Nurul kelihatan lemah, padahal sebagai seorang Syeikh semestinya dia ditampilkan berwibawa. Bukannya datang ngemis2 fahri minta poligami ama ponakannya.

*Kritiknya tidak setajam novelnya. Mungkin kena sensor kali ya? Yg ini gw sedikit maklum

*Aisha seolah digambarkan sebagai seorang yg ceroboh, mau kimpoi tanpa mengenal latar belakang suaminya. Padahal di novelnya dia telah mengenal Fahri dengan baik dari cerita2 Eqbal, pamannya.

Terus terang saya kecewa dengan film ini. Kenapa ya sutradara sekelas Hanung dengan karya2 terkenalnya bisa menghasilkan film kurang bermutu spt ini?

Memang lebih baik Hanung tetap berada di jalurnya, yaitu komedi. Dan film ini sebaiknya diserahkan kepada orang yg lebih “islamis” seperti Dedy Mizwar dengan karya2 terkenalnya seperti Lorong Waktu, Para Pencari Tuhan dll

Dan lebih baik agar hak pembuatan film islam seperti AAC tidak diberikan kepada PERUSAK MENTAL BANGSA, PEMBUAT SINETRON PERUSAK MORAL, PENJAJAH DARI INDIA, PUNJABI BERSAUDARA!

Lempar batu merah untuk PUNJABI!

Written by fatinsa

March 2, 2008 at 7:11 pm

Posted in Coretan Info

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. lom nonton mas..
    btw, udah dapet yg versi full-nya?
    endingnya beda euy..

    prast

    March 3, 2008 at 1:31 am

  2. Saya juga sangat kecewa setelah saya nonton filmnya,begitu lama saya menantikan film ini diputar berharap cerita yang dimainkan minimal sejalan dengan cerita novel asalnya….eeeh taunya berbeda jauh dari novelnya,mulai karakter tokoh-tokohnya,jalan ceritanya,juga setting tempat dan hubungan sosialnya…mulai tokoh fahri yang pemarah,tidak ada kesabarannya juga cupunya itu lho..begitu juga tokoh aisha yang sangat berbeda jauh ma karakter yang terbangun di novelnya..yang selalu meragukan fahri,tp hal yang sangat mengecewakan itu banyak pont-point cerita yang sangat penting itu tidak di tampilkan semisal makna ayat-ayat cinta itu sendiri..trus mimpinya maria ketika bertemu bunda maria tentang arti kunci masuk surga…ya memang mengkritisi itu lebih mudah dari pada mengkreasi..tp ini sangat terlalu beda nilai-nilai moralnya dibanding novelnya….

    mansur el qudsy

    March 3, 2008 at 7:40 am

  3. ah belom nonton gak bisa comment

    panggiring

    March 3, 2008 at 10:31 am

  4. 🙂
    aku malah bingung ora ngerti alur…
    sory numpang nimbrung aja.

    Hal biasa kalo apa yang di kertas beda dengan apa yang bergerak di layar tontonan.

    lupuzmillenia

    March 3, 2008 at 10:50 am

  5. assalamualaikum…
    hai.. seneng bgt bs ada disini

    saya jg berharap klo crita filmnya sama ma crita novel,
    knapa jg jln critanya hrs diubah pdhl crita aslinya kan dah top bgt.
    ada yg ampe nangis nonton filmnya gimana kl mereka tau crita aslinya pasti rasanya gimana gitu lebih dari nangis kale ya..he..he

    cerita ayat2 cinta itu bisa jd gambaran buat org2 luar tentang islam yang sebenarnya itu seperti apa, sayang bgt yah kl difilmnya rada beda.
    Mudah2an film2 islam yg bagus seperti bisa lebih banyak difilmkan
    tp kl bisa jgn di bioskop aja, di TV lebih bermanfaat ga byk maksiatnya.

    ida

    April 7, 2008 at 7:48 am

  6. 1. Hmm….mungkin kesan yang ingin ditegaskan di film bukan karakter fahri yang terlalu dewasa dan matang pikirannya layaknya di novel? justru karena pertemuannya dengan aisha dan maria itulah fahri menemukan apa arti hidupnya dengan berbagai cobaan dan pengalaman yang mengharu biru. something like, “pendalaman karakter” tapi harus memang dibilang kunci karakter yang paling kuat disini sebenarnya maria. menurut saya sih, hanung mungkin ingin menggambarkan karakter fahri yang gak terlalu berat buat para penontonnya. ^^
    2. Orang yang jadi Gila itu banyak pengalamnnya lho.
    Lagipula scene jadi tegang dan keren karena kata kata kuat yang seolah meremehkan tapi justru jadi scene mengharu biru buat pelajaran di para penontonnya. islam bukan ajaran yang gila, mungkin fahri diberi pelajaran bahwa islam agama tauhid yang terlahir dari hati.
    3. soal alicia gak jadi orang islam, saya juga sempat kecewa, filmnya jadi kurang kena aja. pdhl itu slah satu momen yang paling saya tunggu.
    4. Mesir gak bisa jadi alasan adanya orang kuat, lemah,
    ataupun keras. malah disana memang banyak sekali orang orang yang mengajar islam dengan amat keras. cobalah baca baca novel yang bersetting mesir ataupun suasana kerasnya hidup di lingkungan padang pasir. saya rasa penulis sendiri juga pasti sudah banyak mereverensi dari macam macam buku lainnya. walaupun memang, sya rasa scene yang mukul mukul terus bilang takbir itu kesannya aneh aja, ah mungkin kalau di amerika sudah dikata katai macam “bastard/ damn” untuk scene yang menjelaskan watak keras orang mesir sih boleh saja, tapi kalau buat scene kuatnya islam disana saya rasa jadi terkesan aneh.
    5. saya justru merasa karakter aisha disini digambarkan sebagi wanita yang kuat, memang seberapa ceroboh dia sebelum berfikir masak masak soal poligaminya si fahri? tapi film jadi terkesan praktis, memang gak sebagus novel, overall sih alhamdulillah lumayan juga🙂
    6. hmm….kalo filmnya diserahkan ke deddy mizwar kynya jadi kurang profesional. berpengalamn dalam satu bidang belum tentu ke yang lain kan? saya paling suka pendalaman karakter maria sih secara luas, legit. ^^

    Millenia 344

    November 2, 2009 at 4:35 am

  7. Ilmu itu bsa dr siapa aj, gk mesti si alim, klo mnurut q,:D

    Nurul Wahana

    February 28, 2013 at 3:40 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: